Shonen Trope

Saat ini saya masih berjuang menyelesaikan menulis AM. Sebagaimana yang sudah dikatakan di postingan tersebut, AM adalah novel yang sulit dan berbeda dari novel-novel yang sudah pernah saya tulis. Salah satu perbedaannya adalah AM ini memiliki protagonis remaja laki-laki.

Dari semua novel remaja yang pernah saya tulis, saya belum pernah menggunakan protagonis laki-laki. Tokoh utama di novel-novel remaja saya yang sudah terbit masih perempuan semua. Dan saya merasa sudah saatnya saya mencoba mengambil remaja laki-laki sebagai karakter utama. Harapan saya, agar novel-novel remaja saya nantinya bisa merangkul lingkup pembaca yang lebih luas dan diverse.

Asal mula tercetusnya keinginan ini adalah ketika seorang teman membeli novel saya, Co-Star, untuk dibaca anaknya, seorang anak laki-laki kelas 6 SD. Saya mengirimkan novel itu untuk mereka, tapi sebetulnya dalam hati saya agak kebat-kebit karena Co-Star adalah novel romansa remaja dengan tokoh utama remaja perempuan. Bukan berarti nggak bisa dibaca anak laki-laki sebelas tahun, sih … tapi rasanya saya jadi ingin memberikan karya lain yang … mungkin lebih bisa dia nikmati. (Walaupun saya nggak tahu selera bacaan anak itu; bisa jadi sih dia suka cerita romansa remaja.)

Saya perhatikan, pembaca novel saya saat ini (yang masih berusia remaja) lebih banyak perempuan daripada laki-laki. Tapi ini bukan hasil survei berbasis data, hanya deduksi dari observasi kasar saja. Entahlah ya …. Apa karena remaja perempuan memang lebih banyak membaca novel daripada remaja laki-laki? Atau karena novel-novel remaja yang tersedia di pasaran saat ini memang lebih banyak memenuhi selera umum remaja perempuan dari segi genre, cerita, dan karakter? (Contoh: kebanyakan novel remaja yang ada saat ini bergenre romansa, dengan trope yang sampai saat ini masih banyak yang klise seperti misalnya cowok basket tajir ganteng populer jatuh cinta sama cewek culun nerdy dari keluarga tak mampu, dsb.)

Untuk menulis AM ini, saya berniat mencari referensi dengan membaca beberapa novel remaja lokal yang tokoh utamanya remaja laki-laki. Namun, saya lumayan kesulitan menemukannya. (Atau sayanya aja yang mainnya kurang jauh?) Lalu saya sadar, sepertinya jumlah novel remaja karya penulis lokal dengan tokoh utama remaja laki-laki masih jauh lebih sedikit daripada novel yang tokoh utamanya remaja perempuan.

Akhirnya saya melakukan riset dengan mengambil jalan yang paling masuk akal untuk menghidupkan feel sebagai remaja laki-laki: menonton anime dan membaca manga bergenre shonen. Sejak kecil saya akrab dengan animanga shonen, bahkan saya jauh lebih suka itu daripada shoujo haha. Ada keseruan tersendiri dari animanga shonen: pertarungan, aksi, kompetisi, mimpi, rivalitas, persahabatan, tekad untuk menjadi nomor satu dunia …. Semuanya dikemas dengan seru, menarik, dan umumnya menyentuh hati. Banyak banget animanga shonen yang punya adegan mengharukan. :’)

Sebetulnya cerita-cerita shonen juga punya pola tersendiri yang pada umumnya tipikal. Protagonis shonen juga jelas ciri khasnya (loud, stubborn, penuh determinasi, dari lemah jadi kuat, blablabla). Yaaa walaupun semakin ke sini, pola cerita dan karakterisasi protagonis shonen makin beragam, sih. Nggak setipikal dulu.

Tapi … beda dengan ketika saya menikmati animanga shonen pada zaman sekolah … saat menontonnya lagi sekarang, saya banyak memperhatikan hal-hal yang dulu nggak saya perhatikan. Misalnya, yang sangat menonjol di animanga shonen adalah character development dari protagonis dan teman-temannya (kadang malah antagonisnya juga dapet character development). Selain itu … animanga shonen (yang bergenre adventure, fantasy, atau sport) biasanya kan panjang ya, volume komiknya jauh lebih banyak daripada shoujo. Jadi plot ceritanya dibagi ke dalam arc. Misalnya di Arc 1, protagonis akan menghadapi masalah 1 yang berujung melawan antagonis 1. Selesai Arc 1, masuk ke Arc 2, di mana protagonis akan menghadapi masalah 2 yang berujung melawan antagonis 2, dst sampai klimaks.

Namun, walaupun konfliknya kayak kepisah-pisah dengan melawan musuh yang berbeda-beda, sebenarnya ada satu “selimut” yang tetap membungkus keseluruhan ceritanya dan membuatnya jadi utuh dari chapter 1 sampai chapter terakhir. Dari awal, goal si protagonis ini jelas: entah ada misteri yang hendak dipecahkan, atau ada titel yang ingin diraih, atau ada benda yang ingin didapatkan, atau ada orang yang ingin ditemui/dilindungi, atau ada dunia yang ingin diselamatkan …. Dan sampai akhir pun si protagonis bergerak menuju goal tersebut meski “ke mana-mana dulu”.

Misalnya Naruto —> tujuannya menjadi Hokage. Luffy —> menjadi raja bajak laut dan mendapatkan one piece. Eren —> membunuh semua titan. Goku —> menjadi yang terkuat di dunia. Gon —> menjadi hunter dan menemukan ayahnya. Tanjiro —> mengalahkan Kibutsuji Muzan dan membuat Nezuko kembali menjadi manusia. Itadori —> menemukan dan memakan semua jari Sukuna. Masing-masing protagonis ini punya quest pribadi yang menjadi motivasinya untuk terus maju menghadapi segala halang rintang.

Hal itulah yang paling membuat saya kepincut sama animanga shonen sejak dulu. Cerita-cerita shonen umumnya deep dan rasanya menyenangkan mengikuti perjalanan mereka mencapai goal-nya. Walaupun terkesan “predictable” (dalam artian, “Ah nanti pasti ending-nya si protagonis bakal mencapai goal-nya”), tetap saja kisah perjalanan menuju ke sana — yang panjang dan berliku-liku — sangat menarik. Belum lagi side characters di animanga shonen yang biasanya jauuuh lebih lovable dan unik daripada protagonis.

Karena sudah terbiasa dengan pola shonen sejak kecil, waktu sekarang melihatnya dari kacamata yang berbeda (baca: kacamata analisis untuk riset) pun saya cepat familier. Malah lebih ke … berasa kembali ke zaman SD-SMP-SMA ketika masih langganan majalah komik Shonen Star. :’) (Ah, masa-masa indah ketika kepala belum dipenuhi masalah-masalah orang dewasa.)

Demi riset itu saya jadi mempelajari ulang berbagai animanga shonen untuk memperoleh feel sekaligus mencoba meramu si AM ini dengan trope ala itu. Sayangnya … saya terlampau ketagihan dan malah jadi nonton/baca terus, kemudian baper berkepanjangan karena memang cerita shonen-nya banyak sedihnya, dan … nulis AM-nya pun jadi mandeg. ^^;;

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: